Jejak yang Tertinggal

Nama yang berdiri anggun bagai dinding tak berujung, sesuatu yang tak mampu ditundukkan, bahkan oleh leher yang mendongak. Namun di balik keagungan yang diwariskan, ada suara lembut berbisik tentang makna sebenarnya, bahwa gelar yang melekat hanyalah titipan, sandang yang tak pernah dipinta untuk dikenakan. Namun bagiku yang tumbuh dalam riak prasangka, darah yang mengalir kerap kali menuntut perlakuan berbeda. Apakah keistimewaan memang harus disembah? Atau kita hanya terjebak dalam bayang-bayang yang dibuat manusia? Tak ada kebenaran mutlak yang bisa digenggam, semua berputar pada sudut pandang dan sudut harap. Lalu hadirmu, sosok yang terlalu tinggi untuk kuraih. Siapakah aku yang berani menaruh rasa pada padang yang begitu indah? Ada gentar yang menyusup pelan,takut jika langkah yang salah hanya akan memberi kecewa. Biarlah rasa ini sesekali menampar dengan sendiri, agar tak melangkah terlalu jauh melampaui batasnya. Di tempat kedai malam yang belum lelap, di antara aroma pekat yang diseduh penuh peluh, takdir menyapa dalam senyum yang teramat singkat. Seseorang datang membawa binar yang menghentikan waktu, mencari kehangatan yang tak sempat kusajikan sempurna. Meski pesannya tak terpenuhi, tatap matanya menetap lama. Mungkin aku sedang ditempa di persimpangan ini, mempelajari ikhlas, belajar mencintai tanpa pernah meminta kembali. Rancangan Sang Pencipta selalu terukur, meski terasa getir. Jika boleh kuusap wajah dan memanjatkan doa, biarlah harap ini tetap hidup dalam diam. Semoga kelak, keikhlasan yang tumbuh jauh lebih besar dari segala pedih yang tak sempat terucapkan.

Comments

Popular posts from this blog

21 agustus 26

Bisa Lah